SURABAYA –Industri tembakau berharap agar pemerintah tidak meratifikasi aturan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau kerangka kerja pengendalian tembakau. Pasalnya, jika aturan tersebut diterapkan maka diyakini bisa mengancam keberlangsungan industri dan hasil tembakau nasional.
Ketua Umum Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo mengatakan, FCTC tak bisa dilihat dari aspek kesehatan saja. Ia menilai, aspek industri juga harus di perhatikan. Saat ini, industri hasil dari tembakau mampu menyerap sekitar enam juta tenaga kerja langsung maupun tidak langsung.
”Jika FCTC diratifikasi dan disahkan, maka jelas akan mengancam para pekerja yang menggantung kan hidupnya dari tembakau. Belum lagi temba kau juga menjadi penting bagi negara karena sumbangan cukainya yang besar,” kata Budidoyo di Surabaya, Kamis (16/6) petang. http://kursrupiah.net/antisipasi-arus-mudik-lebaran-daop-vi-yogyakarta-tambah-gerbong-kereta/4164/
Budidoyo melanjutkan, sebenarnya Indonesia tak perlu menerapkan FCTC seperti halnya negara lain. Itu karena Indonesia sudah memiliki Peraturan Pe merintah No. 109/2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan. ”Peraturan ini sudah mengadopsi sebagian besar pasal-pasal yang ada dalam panduan FCTC. Selain itu, beberapa peraturan menteri juga sudah pula diterapkan dalam rangka mengawasi dan me ngen dalikan dampak rokok, terutama bagi kesehatan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Soeseno meminta pemerintah Indonesia melihat negara lain yang sudah menerapkan aturan FCTC. Dalam aturan tersebut, mereka ditekan untuk menerapkan kemasan rokok polos, pelarangan penggunaan cengkih dalam rokok, dan konversi tanaman tembakau.
”Bayangkan jika aturan itu sampai diterapkan di Indonesia. Aturan aturan itu dapat menimbulkan gejolak di dalam masyarakat. Pasalnya banyak petani cengkih dan tembakau. Selain itu juga bisa mematikan industri hasil tembakau nasional yang di dalamnya terdapat jutaan pekerja yang hidup dari industri ini,” pungkas Soeseno
sumber: radar surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar