Persis di tepi Sungai Brantas, Dusun Dungduro, Desa Krembangan, Kecamatan Taman, berdiri Pondok Pesantren Mas. Ponpes ini tergolong baru karena didirikan pada 21 Rabiul Awal 1421 Hijriah atau 21 Juni 2000. Para kiai yang tercatat sebagai pendiri antara lain KH Muslich Bin Ali (almarhum), KH Mas Nur Mufid, MA Bin Ali Bin Hanbali, Nailil Muna Binti Toha (istri Ali Bin Hanbali), Dr H Abdul Mujib, KH M Hilmi Bin Ali Bin Hanbali, dan KH Abdul Jalil Bin Baqir. Pelan tapi pasti, ponpes ini terus menarik minat para santri dari berbagai pelosok Jawa Timur, bahkan kota-kota lain di tanah air. Mengapa memilih nama Mas? Nur Mufid, pendiri dan pengurus Ponpes Mas menjelaskan, kata ‘Mas’ mudah diucapkan dan disukai banyak orang seperti mas (emas). Karena itu, tujuan ponpes ini adalah untuk mencerahkan, mencerdaskan, dan mendewasakan para santri. Itu semua melalui proses takziyah dan tanwir (penyucian dan pencerahan), tilawah, talqin, dan takwid (pembacaan teks suci, indoktrinasi nilai, dan pembiasan atau praktik-praktik perilaku islami); dan proses taklim dan tadris (pembelajaran dan transformasi pengetahuan). http://kursrupiah.net/pemangkasan-bi-rate-direspon-positif-rupiah-tutup-akhir-pekan-di-zona-hijau/4180/
Pendidikan di Ponpes Mas ini sangat mengutamakan kemandirian. “Jadi, setelah lulus mereka mampu mandiri dan berguna di masyarakat,” katanya kemarin. Sehari-hari hampir semua kegiatan ponpes diserahkan kepada para santri. Contohnya memasak. Baik santri maupun santriwati dibagi beberapa kelompok masing-masing delapan orang. Setiap harinya mereka harus menyajikan makanan untuk semua santri. “Tapi masih ada koki sebagai pengawas,” ungkapnya. Selain itu, para santri juga diserahi hewan ternak seperti ayam, kambing, dan sapi untuk dijaga dan dirawat. “Mereka sendiri yang memberi makan,” tuturnya.
Dengan begitu, para santri dibekali keberanian, kejujuran, dan akhlak agar mampu merdeka. “Merdeka di sini berarti seutuhnya. Merdeka politik, ekonomi, dan sosial,” ungkapnya.
Pada 2007 Ponpes Mas mendirikan Madrasah Nasyiíin PP Mas. Yakni program paket pendidikan selama enam tahun secara berkelanjutan. Tujuan- nya agar para santri dididik secara spiritual, emosional, moral, intelektual, jasmani, dan potensi sosial. “Jika sudah menginjak kelas empat hingga tingkat aliyah, mereka menggunakan bahasa Arab,” katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar